Kopi Pangkon Merusak Ciri Khas Budaya Lasem

Lintasrembang.isknews.com, Lintas Rembang - Banyaknya warung kopi yang ada diwilayah Rembang menjadi ciri khas tersendiri bagi warga khususnya para pecinta kopi. Hingga saat ini muncul istilah negatif kopi pangkon dan kopi tanpa "susuk" atau tanpa kembalian diwilayah Lasem.  

lintasrembang.isknews.com

Hal tersebut cukup disayangkan jika Lasem yang dulunya dikenal melalui kultur budayanya berubah menjadi daerah kopi pangkon atau kopi tanpa susuk. Yang harus dimunculkan dari Lasem adalah sejarahnya, tradisi dan budayanya harus terus digali dan diangkat ke skala Indonesia bahkan dunia.  

Bupati Rembang, H.Abdul Hafidz saat diskusi kopi merayakan keragaman, salah satu rangkaian kegiatan Festival Lasem yang bertempat di situs sejarah Lawang Ombo desa Dasun kecamatan Lasem mengatakan, Lasem yang terkenal dengan kopi lelet termasuk warung kopinya harus dijaga, jangan sampai ada dua sebutan negatif diatas. Karena dua sebutan tersebut bisa mencoreng nilai budaya asli daerah Lasem.

"Kalau di sana - sana ada, di Lasem tidak ada. Enaknya bukan hanya kopinya saja tapi disana sebutannya juga enak, ada yang namanya kopi pangkon, kopi tanpa susuk. Nah ini menyenangkan tapi mengganggu, oleh karena itu tujuan dan keaslian ini yang harus kita angkat, sebutan kopi pangkon ini justru bisa mencoreng Lasem," ungkapnya.

Sementara itu Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah, Arif Sambodo dalam kesem0atan itu menuturkan, dari 16 sub sektor, kuliner, fashion dan kriya masuk dalam tiga besar sub sektor, dan kopi ini termasuk pengembangan sub sektor kuliner. Karena pengembangan ekonomi Pemprov Jateng dalam lima tahun ke depan menyasar industri kreatif. 

Pihaknya juga akan mengembangkan industri kreatif kopi yang dikombinasikan dengan potensi sejarah didaerahnya seperti Lasem. Warung kopi ini bisa dikembangkan menjadi kafe yang menarik untuk menghabiskan waktu menikmati sejarah waktu ataupun untuk diskusi.

"Tiga utama yang ada di Jawa Tengah ini adalah kuliner, fashion dan kriya. Kopi ini termasuk kuliner dan industri kreatif, rencananya akan kita kembangkan kombine dengan heritage- heritage seperti ini, dijadikan kafe- kafe atau diolah," jelasnya.

Iapun menyebutkan saat ini hanya tiga kota yang menjadi produsen utama kopi di Jawa Tengah ada di beberapa kota. Jika bisa dikembangkan di Rembang pihaknya pun sangat mendukung, pasalnya saat ini Rembang ataupun Lasem masih mendatangkan kopi mentah dari luar daerah.

"Saya mendukung jika nanti usaha kopi ini bisa dikembangkan di Rembang, untuk saat ini di Jawa Tengah produsen utama kopi ada di Kebumen, Semarang dan Temanggung," pungkasnya. (rtw)

No comments

Powered by Blogger.